Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

DAMN I LOVE INDONESIA

  • Tuesday, January 28, 2014
  • mansyurahmad.blogspot.com

  • Sebuah Kisah Sebuah Cerita dalam sejengkal perjalanan yang dilakukan setiap orang pasti terdapat sebuah cerita dan sebauh cerita dapat membentuk sebuah kisah, panis pahit, suka duka yang terkadang bisa membuat kita emosi, patah semangat saat menjalani prosesnya dan seakan semua yang telah kita lakukan seperti sia-sia saja terkadang dalam posisi tersebut kita merasa telah melakukan semaksimal mungkin apa yang kita bisa, dan terkadang kita disadarkan setelah kita mencapai tujuan yang kita inginkan melalui sebuah perjalanan yang berliku. tuhan tidak memberikan ujian atau jalan yang berliku di luar kemampuan umatnya, jika kita masih berada dalam jalan berliku dan belum menemukan jalan terang itu tandanya usah kita untuk keluar dari zona tersebut belum maksimal :)

    DIBALIK BENCANA ADA “WACANA” MENUJU APRIL & JULI 2014

  • Sunday, January 26, 2014
  • mansyurahmad.blogspot.com
  • Label:
  • http://www.antarasumut.com/wp-content/uploads/2013/05/logo-pemilu-2014-okkkk.jpg

    Pesta 5 tahunan yang biasa disebut “pesta demokrasi rakyat” oleh segelintir orang yang mempunyai maksud dan tujuan untuk melanggeng “kesana” menjadi anggota dewan terhormat akan terselenggara pada 9 April 2014. Berbarengan dengan tahun “Pemilu” tersebut pun bencana melanda Indonesia, sebut saja letusan gunung sinabung di Kabupaten Karo, banjir Bandang di Manado, Banjir di Ibu Kota, dan banjir di Kota dan Provinsi lainnya seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat.  Hadirnya bencana yang melanda bumi Nusantara tidak disiasiakan oleh Orang-orang yang bermaksud mencalonkan diri menjadi anggota dewan pada pemilu, mereka ramai-ramai membuka posko bantuan dan belusukan menyambangi warga namun saya melihat langkah tersebut sebagai “MODUS”, memberikan bantuan kepada warga yang sedang terlanda bencana memang sangat mulia “TAPI” kenapa saat memberikan bantuan tersebut tidak menanggalkan atribut Parpolnya…?? Mungkin ini memang suatu langkah untuk mempromosikan diri dan parpolnya, memang sangat cerdik dan kreatif memanfaatkan momen bencana sebagai media promosi, saya pribadi memberi nama langkah mereka dengan sebutan “Di Balik Bencana Ada “Wacana” Menuju April & Juli 2014”. Disaat warga menjerit datanglah orang-orang yang “BERHATI MULIA” menolong dan memberikan bantuan kepada warga, orang “BERHATI MULIA” ini memberikan bantuan makanan, pakaian, dan motivasi kepada warganya, “NAMUN” sekali lagi saya PERTANYAKAN kenapa atribut parpolnya tidak dilepas..?? kalau memang mau membantu sesama yang membutuhkan bantuan alangkah lebih baik dan lebih mulia tanpa harus mengenakan atau menjadikan momen tersebut sebagai ajang promosi atau kampanye, sangat ironis bila memberikan bantuan namun dibalik semua itu pun terdapat maksud lain yang merupakan salah satu langkah untuk memuluskan tujuannya di April & Juli. Memangnya kalau kalau seorang aktivis parpol jika hendak memberikan bantuan kepada sesama diwajibkan memakai atributnya,,,,??? Memang di negeri ini semua hal dari hal sepele sampai hal yang luar biasa tidak luput dari “POLITISASI” para tokoh dan para elit yang memang berkecimpung di dunia politik. Sekarang sebutkan apa yang di negeri ini yang tidak bisa DIPOLITISASI…?? Saya sendiri memandang di negeri ini sudah tidak ada lagi seseuatu yang murni tidak dipolitisasi, misalkan saja “CINTA” yang konon kata orang “Cinta itu suci,cinta murni” namun saya menilai masih kah cinta bisa dikatakan suci atau murni jika cinta itu sudah DIPOLITISASI…???. Walaupun memang pada dasarnya “SEJARAH” menceritakan “POLITIK CINTA/MEMPOLITISASI CINTA” sudah ada sejak zaman dahulu, jika suatu kerajaan hendak menguasai kerajaan lain bisa ditempuh melalui “CINTA”. Pendek kata misalkan kerajaan A memiliki sang Raja yang menduda atau Rajanya doyan kawin, nah kita berposisi sebagai Raja Kerajaan B, dan berhendak atau berkeinginan menguasai kerajaan A, maka saya sebagai Raja Kerajaan B bisa menempuh keinginan saya untuk menguasai kerjaan A dengan “CINTA”, bwakan saja atau tawarkan saja seorang gadis yang berkeinginan untuk memiliki seorang suami, tentu saja sang gadis tersebut sudah di doktrin dengan “tujuan dan maksudanya” karena cinta itu memiliki banyak arti. Begitupun para calon yang mencalonkan dirinya sebagai anggota dewan, mereka mencintai warganya terbukti mereka turun member bantuan terhadap para korban bencana, namun dibalik cintanya seperti tersirat “DUKUNG DAN PILIHLAH SAYA BESERTA PARPOL SAYA DI PEMILU NANTI”, buktinya saat mereka memberikan bantuan mereka tak melepas atribut parpolnya, dan bahkan ada oknum parpol yang mengaku bahwa salah satu bantuan yang diberikan oleh pemerintah adalah berkat jasanya.

    BAGAIMANA BISA YANG KECIL BISA MENJADI BEGITU BERARTI…??

  • Monday, January 20, 2014
  • mansyurahmad.blogspot.com
  • Label:

  • Tak jarang kita melihat uang koin recehan Rp.100 seperti tak guna atau berfikir uang Rp.100 bisa beli apa? Emang zaman sekarang masih ada barang dengan harga Rp.100…?? pernahkah kalian berpikiran seperti itu? Saya pribadi pernah dan bahkan tak jarang berpikir seperti itu. Namun bila dipikir secara bijaksana uang Rp.100.000 tak akan menjadi sebesar Rp.100.000 bila kurang Rp.100, angkanya hanya menjadi Rp.99.900. mungkin semasa anak-anak,remaja atau semasa sekolah atau kuliah kita tak pernah berpikir sejauh itu apa lagi bila belum mendapatkan pekerjaan atau belum kerja untuk mencari uang. Setelah sampai pada masa dimana kita harus mencari uang, disana akan terasa betapa susahnya mencari uang walaupun hanya sebesar Rp.100 dan disanalah kita akan menyadari sesuatu yang kecil sangat berarti keberadaanya. Pikiran kita terkadang melupakan dan menganggap sesuatu yang kecil itu keberadaanya tidak berarti, namun sebetulnya sesuatu yang besar tercipta berawal dari yang “kecil” pepatah mengatakan “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” sama hal nya dengan koin recehan sebesar Rp.100 bila dikumpulkan sebanyak seribu koin maka akan membentuk dan mencapai uang sebesar Rp.100.000, namun kita tak pernah berpikir sampai sedetail itu dan tidak melihat proses terbentuknya sesuatu yang besar dan berarti dari sesuatu yang kecil dan terkadang terlihat seperti tidak berarti. Kebanyakan orang mungkin tidak terlalu memperhatikan proses dan terkadang menganggap proses tersebut sebagai suatu hambatan atau halangan, namun disaat kita menghargai proses tersebut maka kita akan mendapatkan pelajran dan makna hidup yang tidak didapatkan oleh orang yang kurang menghargai dan menikmati proses. Terkadang mungkin proses tersebut membuat kita patah semngat, namun ketika kita mampu bertahan dan melewati proses tersebut sangat luar biasa hikmahnya, perjuangan yang kita lakukan akan terasa menjadi bermakna, dan tak jarang akan melekat dalam memory kita, 1001 langkah yang telah dan akan dilewati berawal dari satu langkah pertama dan langkah-langkah selanjutntya sampai kita mencapai apa yang kita harapkan, uang Rp.100.000 yang kita memiliki bila dipecah maka akan terdiri dari 1000 koin uang Rp.100, 200 koin uang Rp.500, 100 lembar uang Rp.1000, 20 lembar uang Rp.5000, 10 lembar uang Rp.10.000, 5 lembar uang Rp.20.000, 2 lembar uang Rp.50.000 dan 1 lembar uang Rp.100.000, terlihat ribet dan rumit, namun itu lah fakta yang jarang kita sadari.

    APA SAJA PERLENGKAPAN YANG MENDUKUNG (SOP) DAN APA SAJA YANG HARUS DISIAPKAN UNTUK PENDAKIAN GUNUNG..??

  • mansyurahmad.blogspot.com
  • Label:

  • 1.CARRIER BAG
    Carrier bag atau tas pembawa sangat mendukung untuk aktifitas pendakian, terutama bila barang yang dibawa banyak, dan lama pendakian suatu gunung cukup lama misalkan 2-3 hari, otomatis barang bawaan pun akan bertambah

    2.TENDA
    Tidak bisa dipungkiri keberadaan tenda saat melakukan pendakian gunung atau berkemah di alam bebas sangat dibutuhkan fungsinya tetntu untuk beristirahat, tidur, dan menghindari dari terpaan hujan

    3.SEPATU/SANDAL GUNUNG
    Saat hendak mendaki sangat di anjurkan mengggunakan sepatu, terutama sepatu yang memang dirancang khusus untuk hiking, jika memang tidak punya sepatu gunung bisa juga memakai sepatu yang tidak licin misalkan sepatu boot, asal jangan sampai mendaki pakai high heels pilihan lainnya jika memang sepatu tidak ada pakai saja sandal gunung, sangat tidak dianjurkan memakai sandal teplek atau sandal jepit kecuali memang ada sudah professional atau hidup anda di gunung dan terbiasa naik turun gunung pakai sandal jepit, perlatan standar ditujukan untuk menjaga keamanan, konon katanya 70% dari kecelekaan saat mendaki berawal dari kaki, karena kaki merupakan salah satu modal penting saat mendaki gunung jadi sudah sewajarnya kita memakai perlengkapan standar.

    4.RAIN COVER/COVER BAG
    Untuk menjaga tas atau carrier anda saat hujan maka gunkanlah raincover atau cover bag suapaya air tidak tembus dan membasahi barang bawaan anda

    5.PONCO/JAS HUJAN
    Ponco dan jas hujan ini sangat bermanfaat terutama jika melakukan pendakian pada musim atau bulan-bulannya hujan turun, walaupun saat mendaki pada misim kemarau ponco atau jas hujan sangat di anjurkan untuk dibawa. Ponco selain untuk menghndari terpaan hujan ponco bisa juga dijadikan bivak untuk kegiatan lainnya misalkan tempat beristirahat, berteduh, menghalangi terpaan angin saat memasak

    6.JAKET/BAJU HANGAT
    Udara di gunung biasanya lebih rendah dari suhu di rumah/perkotaan/perkampungan jadi sangat sangat disarankan membwa jaket supaya bisa melapisi dan menghalangi terpaan angin dan kecaman suhu yang rendah pada tubuh, terpaan atau kecaman suhu yang rendah dapat menyebabkan kedinginan parah dan bisa berefek fatal dan dapat menyebabkan kematian

    7.PAKAIAN GANTI
    Pakaian ganti dianjurkan untuk dibawa karena kita tidak pernah tau kondisi alam liar, bisa saja kita saat berjalan tdibawah terik matahari iba-tiba hujan menerpa dan menyebakan badan serta pakaina yang kita gunakan basah kuyup

    8.PERLENGKAPAN SHOLAT
    Terutama bagi anda yang beragama muslim jangan lupa membawa perlengkapan alat sholat seperlunya, missal :sarung, mukena, peci, atau sajadah

    9.MATRAS
    Fungsinya untuk alas, baik als tidur atau alas duduk. Biasanya matras digunakan untuk alas di tenda saat tidur

    10.KAUS KAKI, SARUNG TANGAN,KUPLUK,BUF, SLAYER
    Keberadaan kaus kaki an sarung tangan cukup membantu terutama saat suhu sangat rendah bisa digunakan untuk menghangatkan ujung kaki, jangan anggap sepele kedinginan di ujung bagian tubuh misalnya pada jari kaki dan tangan jika udara atau suhu ekstrim kedinginan hebat pada ujung-ujung tubuh tersebut dapat menyebabkan aliran darah membeku akhirnya bisa menyebabkan frozbite, selain itu sarung tangan berfungsi untuk melindungi tangan dari benda-benda atau ranting yang tajam saat memang kita melewati medan yang curam dan mengharuskan kita untuk berpegangan pada akar, ranting, atau semak, dan bahkan pada pohon

    11.ALAT PEREKAM/CAMERA/VIDEO
    Jangan lupa saat hendak akan berpetualang untuk membawa alat perekam kejadian seperti camera, rasanya kurang apdol jika kita tidak menyimpan dan mengabadikan moment indah saat berpetualang

    12.POWER BANK
    Zaman sekarang sudah banyak sekali alat penyimpan energy listrik untuk mengisi ulang gadget yang kita bawa misalkan handphone, smartphone, barang-barang tersebut sepertinya cukup mendukung petualangan anda, terlebih zaman sekarang handphone atau smartphone sudah dilengkapi dengan fitur yang mendukung untuk berpetualang misalkan camera, altimeter, kompas digital

    13.TRASH BAG
    Tas sampah atau kantong sampah yang besar selain digunakan untuk membawa turun kembali sampah kebawah gunung, trustbag juga bisa digunakan sebagai pelapis di dalam carrier bag agar barang bawaan semakin aman dan terhindar dari kebasahan

    14.BENDERA MERAH PUTIH
    Kain berwarna merah putih ini semakin mempergagah dan memepercantik foto anda saat mengabadikan moment indah

    15.PERLATAN MASAK
    Konyol rasanya jika kita membawa makanan yang harus dimasak dahulu, namun kita tidak membawa perlatan masaknya, seperti kompor portable, gas, nesting, sendok dll (disesuikan dengan acara petualangannnya)

    16.PISAU
    Jelas fungsinya untuk memotong, dan keberadaanya sangat membantu sekali dalam berpetualang, namun jangan pernah sesekali digunakan untuk merusak misalnya mencakar-cakar kulit pohon membuat tulisan atau nama pada pohon menggunakan pisau tersebut

    17.RAFFIA
    Biasa digunakan untuk mendirikan tenda atau keperluan lainnya terkait dengan tali temali, atau juga bisa digunakan untuk menandai jalur yang kita lalui dengan cara menyematkannya di dahan atau ranting dengan selang atau jarak beberapa meter, namun jangan lupa saat turun dicabut lagi.

    18.GOLOK TEBAS
    Berfungsi jika melewati jalur yang rimbun dan terpaksa kita harus membuka jalur

    19.PERALATAN MAKAN
               misalnya alas makan, gelas, sendok bawalah peralatan makan seperlunya dan bawalah perlatan yang bisa berfungsi ganda.

    20.PLASTIC BENING UKURAN ¼ ATAU 1/5 ATAU DRYBAG
    Berfugsi untuk melindungi gadget seperti camera/HP, jika ingin sedikit keren pakailah airbag namun secara keseluruhan fungsinya sama saja

    21.TERMOS
    Untuk menyimpan air panas bisa untuk jaga-jaga atau antisipasi misalkan untuk membuat the saat ada anggota yang masuk angin, bisa juga untuk manghangatkan tubuh atau telapak tangan yang kedinginan, tujuan lainnya untuk mempermudah saat membutuhkan air panas kita tidak peru repot untuk memasak air

    22.MAKANAN
    Keberadaanya sangatlah penting tak perlu dijelaskan lagi, jangan sekali-kali pergi kea lam liar terutama medannya belum anda ketahui tanpa  membawa bekal (makanan)

    23.WATER TANK/HYDROPACK/WATERBLADDER
    Equipt yang satu ini selain memperindahn gaya anda saat mendaki fungsinya adalah mempermudah saat anda haus dan ingin ingin minum. Tempatnya disimpan dalam tas namun tempat ini memiliki selang dan selangnya disematkan ke tali tas jadi saar haus anda tinggal menyedot air yang ada dalam water tank dari selang.

    24.GEITER
    Geiter berfungsi supaya air, tanah, debu, kerikil masuk ke dalam tanah, misalkan jika anda mendaki puncak mahameru geiter cukup membantu kenyamanan saat mendaki, karena medan menuju puncak mahameru memang pasir dan kerikil yang bila mana di injak bergerak dan cukup dalam

    25.SUNGLASS/KACAMATA
    Tujuannya tidak hanya untuk bergaya saja melainkan untuk menambah kenyamanan saat menikmati keindahan alam saat panas terik, karena saat terik akan menyilaukan penglihatan mata

    26.OLAH RAGA KECIL/JOGGING
    Dapat membantu meningkatkan stamina, dan mengencangkan otot-otot yang lembek dan bisa dijadikan sebagai salah satu tolak ukur kemampuan fisik anda

    27.TIM
    Jika anda bukan pendaki atau petualanga solois maka tim diperlukan, untuk menemanaai petualangan anda, minimal satu orang, berdua dengan anda

    28.OXYGEN
    Berfungsi saat anda atau anggota tim ada yang mengalami sesak nafas, semakin tinggi gunung yang kita daki dan semakin tinggi kita berada pada ketinggian di gunung maka oxygen semakin tipis

    29.P3K

    P3K sangat penting untuk dibawa, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

    CARA MENYUSUN ATAU PACKING BARANG BAWAAN KE GUNUNG

  • Friday, January 10, 2014
  • mansyurahmad.blogspot.com
  • Label:



  • Kemampuan dalam menyusun barang bawaan ke dalam carrier bag saat hendak mendaki gunung cukup diperlukan, karena jika salah atau kurang tepat dalam packing akan menyebabkan carrier bag tidak nyaman untuk di gendong.  Mungkin setiap orang mempunyai kebiasaan atau caranya tersendiri dalam packing saat akan mendaki gunung. Sedikit trik dan tips dari saya berdasarkan pengalaman dalam packing.  Pertama-tama sebelum  memasukan barang hendaknya carrier bag bagian dalamnya dilapisi dengan plastic pollybag atau trashbag ukuran besar ini guna menghindari barang-barang terbasahi saat hujan. Lalu jika carrier bag yang kita gunakan berukuran 60L ke atas alangkah baiknya jika matras dikunakan menjadi frame carrier supaya carrier terbentuk lebih enak untuk dilihat dan menambah kenyamanan serta keamanan supaya matras tidak kotor atau terkena air hujan. Dalam penyusunan barang sebainya kita memisahkan barang-barang tersebut berdasarkan intesitas pemakaianya, misalnya barang yang akan sering digunakan saat pendakian disimpan di bagian paling atas agar memudahkan dalam pengalmbilan saat dibutuhkan, misalnya ponco atau jas hujan sebaiknya disimpan di bagian paling atas. Sedangkan barang yang penggunaanya jarang atau digunakan saat mendirikan tenda ditempatkan paling  bawah misalnya sleeping bag, atau pakaian ganti dan barang-barang seperti makanan yang akan dimasak atau dimakan saat berkemah atau dalam saat istirahat setelah tenda berdiri, sebaiknya ditempatkan dibagian tengah misalnya makanan berat. Dan jangan lupa setelah semua barang tersusun secara rapi alangkah bainnya gunakan atau pasangkan rain cover bag pada carrier tujuannya supaya bagian carrier tidak mudah kotor dan ketika terjadi hujan secara tiba-tiba kita tidak harus repot atau kocar kacir mencari rain cover. Jangan lupa bawalah peralatan standard dan perlengkapan pribadi misalkan obat  pribadi, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi saat melakukan pendakian “sedia payung sebelum hujan”, bawalah perlengkapan yang mendukung saat melakukan pendakian dan sebisa tidak membawa perlengkapan yang sekiranya kurang perlu.

    TAUKAH ANDA APA ITU KRIPTOSPORIDIOSIS...???

  • mansyurahmad.blogspot.com
  • Label:
  • KAJIAN  PREVALENSI KRIPTOSPORIDIOSIS DAN SISTEM MANAJEMEN PETERNAKAN SAPI POTONG DI PETERNAKAN RAKYAT KABUPATEN CIANJUR

    STUDY PREVALENCE OF CRYPTOSPORIDIOSIS AND MANAGEMENT SYSTEM AT TRADITIONAL CATTLE FARMING IN CIANJUR

    Irwan Manshur Ahmad1,Umi Cahyaningsih2

    1Mahasiswa Program Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
    2Staf Pengajar, Bagian Parasitologi Veteriner, Departemen IlmuPenyakit, Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
                                                              ABSTRACT
    Cryptosporidium sp. is a protozoan pathogen that caused digestive tract illness, decreased productivity, and economic losses. One of the districts with the greatest risk of cryptosporidiosis in West Java is Cianjur. This study aimed to determine the prevalence of cryptosporidiosis and the average number of oocysts of Cryptosporidium sp. by the age and sex of cattle on the Cianjur’s tradional farming. This study used 81 samples taken from 34 farmers in sub-district Agrabinta and Sindang Barang. The sample consisted of 32 calves and 49 cattle. Cattle consisted of 63 cows and 18 bulls. Testing used floating stool test with sugar sheater and Ziehl Neelsen stain. The results were tested using logistic regression and continued with T-test. The results showed that the prevalence of cryptosporidiosis was 17.28 %. There is no significant differences (P >0.05) of the average number of oocysts of Cryptosporidium sp. by age and sex. From these results, reflecting the maintenance system, light exposure into cage, cage cleaning frequency, and source of water used by farmers has been quite good. From the results of logistic regression test, animals in cages with ground pedestal has a 2.88 times higher risk of becoming infected with Cryptosporidium sp. compared with cattle in pens with cement pedestal. Therefore, farmers were advised to use cement pedestal to reduce the prevalence of cryptosporidiosis .
    Key words: cattle, Cianjur, cryptosporidiosis, management, oocysts.
    PENDAHULUAN
    Cianjur merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki ternak sapi potong dengan populasi cukup tinggi. Kecamatan Agrabinta dan  Sindang Barang memiliki populasi ternak sapi tertinggi dan menjadi pusat pembibitan ternak sapi potong di Kabupaten Cianjur. Banyak hal yang harus dibenahi supaya populasi ternak tersebut tetap terjaga untuk mendukung program swasembada daging sapi pada tahun 2014.  Penurunan populasi ternak sering terjadi akibat adanya serangan penyakit. Perbaikan dalam manajemen pemeliharaan perlu dilakukan untuk mengurangi, dan menurunkan suatu penyakit pada ternak. Serangan penyakit dapat menyebabkan peningkatkan biaya pengobatan, biaya pemeliharaan, dan kematian pada infeksi beratPenyebaran suatu penyakit dapat dihentikan dengan mengetahui cara penularan, siklus hidup, dan epidemiologi agen penyakit.
    Penyakit saluran pencernaan merupakan penyakit umum yang sering ditemukan pada ternak, terutama pada umur beberapa bulan setelah lahir.  Kerugian langsung yang dirasakan oleh peternak akibat penyakit saluran pencernaan adalah biaya pengobatan, dan kematian. Salah satu agen patogen yang dapat menyebabkan penyakit saluran pencernaan adalah protozoa dari genus Cryptosporidium sp. yang harus mendapat perhatian lebih karena menghambat pertumbuhan ternak. Penyakit ini juga dapat menular ke manusia dan dapat menimbulkan kematian ternak pada infeksi yang berat. Protozoa Cryptosporidium sp. merupakan parasit obligat intraseluler dan bersifat sangat patogen. Infeksi protozoa ini secara klinis ditandai dengan adanya diare dan dapat kronis pada kejadian imunodefisiensi. Penyakit ini ditularkan melalui makanan dan air minum yang terkontaminasi oleh ookista dari Cryptosporidium sp.
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat prevalensi kriptosporidiosis dan rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. pada umur dan jenis kelamin sapi di peternakan rakyat Kabupaten Cianjur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar informasi untuk menurunkan prevalensi kriptosporidiosis pada sapi potong sehingga dapat menjaga dan meningkatkan populasi ternak untuk mendukung program swasembada daging sapi pada tahun 2014.
    METODE PENELITIAN
    Waktu dan Tempat Penelitian
    Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai Juni 2013. Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Agrabinta dan Kecamatan Sindang Barang Kabupaten Cianjur, dan pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Protozoologi, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
    Prosedur Penelitian
    Pengumpulan Data
    Data diperoleh dari hasil pemeriksaan sampel feses sapi potong dan pengisian kuisioner dilakukan oleh enumerator menggunakan metode wawancara langsung dengan peternak di peternakan rakyat Kecamatan Agrabinta dan Kecamatan Sindang Barang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
    Pengambilan Sampel Feses
              Sampel feses diambil langsung dari rektum sapi.  Saat sampel tidak dapat diambil langsung, maka sampel diambil dari feses segar yang baru dikeluarkan dan diambil bagian atasnya.  Sampel diberi identitas pada plastik pembungkus, kemudian disimpan di dalam kotak pendingin yang berisi es batu untuk dibawa ke laboratorium.
    Ukuran Sampel
                Populasi target dari penelitian ini adalah sapi potong peternakan rakyat di  Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Unit sampling yang digunakan adalah 81 ekor sapi potong dari 34 peternak. Sampel feses diambil dari sapi potong dewasa (>12 bulan), dan anak (>6 sampai 12 bulan). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus:
    Keterangan :    N  : Ukuran contoh
                            n*  : Jumlah populasi ternak
                            n   : Ukuran populasi sampel
                            p   : Prevalensi dugaan
                            q   : 1- Prevalensi dugaan
                            L   : Tingkat kesalahan

    Jumlah sampel yang digunakan dihitung dengan asumsi sebagai berikut:
    ·      Sensitivitas uji 95%
    ·      Spesifitas uji 100 %
    ·      Prevalensi dugaan 20%
    ·      Tingkat kepercayaan 95%
    ·      Tingkat kesalahan 6%

    Pemeriksaan Sampel Feses  
    Pemeriksaan sampel dilakukan dengan teknik pengapungan menggunakan gula sheater. Sebanyak 1 gram sampel feses diencerkan dengan 14 ml  aquades, selanjutnya disentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpm/10 menit. Supernatannya dibuang dan sedimen yang tersisa ditambahkan dengan larutan gula sheater sampai volume menjadi 15 ml kemudian dihomogenkan. Selanjutnya  disentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpm/10 menit.  Supernatannya diambil untuk diperiksa di bawah mikroskop pembesaran 450 kali (Castro et al. 2002) untuk melakukan identifikasi berdasarkan morfologi dan ukuran (Marcelo dan Borges 2002).
    Pewarnaan Sampel Feses
    Preparat ulas dibuat dari larutan gula sheather yang diteteskan pada gelas objek dan dikeringkan di udara selama satu hari kemudian difiksasi diatas nyala api.  Teteskan larutan Ziehl Neelsen A pada sediaan yang telah difiksasi dan lewatkan di atas api bunsen beberapa kali sekitar 5–10 menit. Teteskan larutan Ziehl Neelsen B sampai pewarnaan terlihat pucat (pink), kemudian dicuci pada air mengalir dan keringkan di udara. Proses selanjutnya, teteskan larutan Ziehl Neelsen C sebanyak 2 tetes selama 2–3 menit, setelah itu dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan. Pengamatan dilalukan di bawah mikroskop perbesaran 1000 kali dengan minyak emersi. Masing-masing larutan Ziehl Neelsen memiliki fungsi dan kandungan zat terlarut yang berbeda. Larutan Ziehl Neelsen A (carbol fuchsin) berfungsi sebagai pewarna utama. Larutan Ziehl Neelsen B (alkohol asam: HCL 3% dalam metanol 95%), berfungsi sebagai peluntur. Ziehl Neelsen C (pewarna biru metilen) berfungsi sebagai pewarna latar.
    Analisis data
    Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode uji regresi logistik dan dilanjutkan dengan uji-t untuk membandingkan rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. dan prevalensinya  berdasarkan jenis kelamin dan umur sapi.  Analisa data menggunakan program SPSS 16.0 dan Microsoft Excel 2007.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Tingkat Prevalensi Secara Umum
    Tingkat prevalensi kriptosporidiosis pada sapi di peternakan rakyat Kabupaten Cianjur menunjukan angka 17.28% seperti terlihat pada Tabel 1. Suatu penyakit muncul ketika terjadi perubahan keseimbangan pada segitiga epidemiologi yang terdiri dari agen, host, dan lingkungan. Muhid et al. (2011) menyatakan bahwa manejemen pemeliharaan dapat meningkatkan infeksi Cryptosporidium sp. Sistem manajemen pemiliharaan yang merupakan faktor lingkungan terdiri dari: alas kandang yang digunakan, paparan sinar matahari, sistem pemeliharaan, frekuensi pembersihan kandang, dan sumber air yang digunakan. Semua hal tersebut dapat berkaitan terhadap transmisi ookista Cryptosporidium sp. Selain manajemen pemeliharaan tingkat infeksi Cryptosporidium sp. dapat dipengaruhi oleh pencemaran lingkungan, suhu, kelembaban, dan geografis (Artama et al. 2002). Pernyataan tersebut dikuatkan OIE Terestrial Manual (2004) yang menyatakan ookista Cryptosporidium sp. dapat bertahan hidup cukup lama pada lingkungan buruk, air, suhu dingin dan kondisi lembabManajemen pemeliharaan dan sanitasi kandang yang baik  perlu diterapkan pada peternakan, untuk menurunkan prevalensi kriptosporidiosis. Sistem manajemen pemeliharaan dan sanitasi kandang yang diterapkan oleh peternak sapi di Kabupaten Cianjur dapat dilihat pada Tabel 2.
    Tabel 1 Tingkat prevalensi kriptosporidiosis secara umum di Kabupaten Cianjur
    Kabupaten
    Jumlah Sampel
    Jumlah Sampel Positif
    Prevalesi (%)
    Cianjur
    81
    14
    17.28

    Tabel 2   Sistem manajemen pemeliharaan dan nilai Odds ratio infeksi Cryptosporidium sp. berdasarkan manajemen pemeliharaan
    Manajemen Pemeliharaan
    n
    n*
    Persentase (%)
    P
    OR
    Alas kandang
    -Semen
    -Tanah 

    34
    34

    5
    29

    14.7
    85.3


    0.038


    2.88*
    Paparan sinar matahari pada kandang
    34
    32
    94
    0.181
    0.74
    Frekuensi pembersihan kandang
    -Setiap hari
    -Seminggu satu kali

    34
    34

    33
    1

    97
    3

    1

    0.00
    Sumber Air
    -Sumur gali
    -Sungai, telaga/kolam

    34
    34

    33
    1

    97
    3

    0.999

    0.00
    Sistem pemeliharaan
    -Intensif
    -Semi-intensif
    -Ekstensif

    34
    34
    34

    2
    10
    22

    6
    29.30
    64.70


    Sistem pemeliharaan
    -Intensif vs semi-intensif
    -Intensif vs ekstensif
    -Ekstensif vs semi-intensif




    0.999
    0.999
    0.317

    2.08
    1.14
    1.82
    Keterangan : uji Regresi logistik; *berbeda nyata (p<0 .05="" span=""> a n ; jumlah peternak, n*;  jumlah pengguna,
    aP; P-value, OR; Odds ratio
    Ternak sapi yang ditempatkan pada kandang dengan alas semen yaitu sebesar 14.7%, dan ternak yang ditempatkan dalam kandang dengan alas tanah sebesar 85.3%.  Castro et al. (2002) menyatakan bahwa ada perbedaan nyata dalam prevalensi kriptosporidiosis di peternakan sapi dengan alas semen dan alas tanah. Hasilnya menunjukan risiko infeksi lebih tinggi pada sapi yang ditempatkan dalam kandang dengan alas tanah dibandingkan dengan sapi yang ditempatkan dalam kandang dengan alas semen.  Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Muhid et al. (2011) yang menyatakan bahwa faktor penyebab tingginya prevalensi kriptosporidiosis adalah ternak yang ditempatkan pada kandang dengan alas tanah.  Alas tanah dapat menyebabkan kondisi kandang menjadi  lembab dan basah.
    Kirk (2011) menyatakan faktor-faktor seperti sinar matahari, pH rendah atau tinggi, pengeringan dan suhu tinggi, dapat mengurangi kelangsungan hidup patogen.  Sinar matahari yang masuk ke dalam kandang akan membantu menurunkan tingkat kebasahan dan kelembaban kandang yang disebabkan adanya penumpukan feses, urin, dan airPaparan sinar matahari ke dalam kandang (94%) yang diterapkan oleh peternak sudah tergolong baik ditambah dengan adanya  frekuensi pembersihan kandang yang teratur dapat mengurangi terjadinya penumpukan kotoran. Cryptosporidium sp. peka pada kondisi kandang yang lembab dan basah sehingga dapat meningkatkan prevalensi kriptosporidiosis. Berdasarkan data kuisioner pada Tabel 2, peternak yang membersihkan kandang ternaknya dengan frekuensi setiap hari adalah sebanyak 97%.
    Sumber air yang digunakan oleh peternak adalah sumur gali, air sungai, dan air telaga atau kolam. Sebagian besar peternak (97%) menggunakan air sumur gali (air tanah) untuk ternaknya, sedangkan penggunaan air sungai, air telaga atau air kolam (air permukaan tanah) hanya sebagian kecil saja (3%) seperti tercantum pada Tabel 2. Ookista Cryptosporidium sp. banyak ditemukan pada air permukaan. Ookista Cryptosporidium sp. telah ditemukan di 4–100% pada sampel air permukaan yang diperiksa dengan konsentrasi mulai dari 1–10.000 ookista/100 liter, sedangkan keberadaan ookista pada air tanah sangat rendah (Lisle dan Rose 1995).  Berdasarkan data kuisioner (Tabel 2), penggunaan sumber air untuk ternak pada peternakan sapi di Kabupaten Cianjur sudah tergolong baik. Hal ini tercermin dari banyaknya peternak yang menggunakan sumber air tanah.
    Sistem pemeliharaan sapi potong terdiri dari tiga, yaitu dikandangkan terus-menerus (intensif), dilepaskan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari (semi-intensif), dan dilepas/digembalakan terus menerus (ekstensif). Penerapan sistem pemeliharaan yang baik akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak, dan tingkat prevalensi penyakit. Sistem pemeliharaan yang banyak diterapkan oleh peternak di Kabupaten Cianjur yaitu : pemeliharaan secara ekstensif (64.70%), pemeliharaan secara semi-intensif (29.30%), dan pemeliharaan secara intensiif (6%). Muhid et al. (2011) menyatakan, prevalensi kriptosporidiosis lebih tinggi ditemukan pada peternakan dengan sistem pemeliharaan intensif. 
    Berdasarkan uji regresi logistik pada Tabel 2 faktor manajemen pemeliharaan yang berasosiasi terhadap prevalensi kriptosporidiosis pada sapi hanya alas kandang saja. Sapi yang ditempatkan dalam kandang dengan alas  tanah memiliki resiko terinfeksi Cryptosporidium sp. 2.88 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan sapi yang ditempatkan dalam kandang dengan alas semen. Sedangkan manajemen pemeliharaan lainnya seperti paparan sinar matahari, frekuensi pembersihan kandang, sumber air yang digunakan, dan sistem pemeliharaan tidak berasosiasi terhadap prevalensi kriptosporidiosis.

    Prevalensi Kriptosporidiosis  Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Ternak pada Pemeriksaan Natif
    Keberadaan ookista diketahui melalui pemeriksaan natif sampel feses  dengan teknik pengapungan menggunakan gula sheater, dan teknik pewarnaan Ziehl Neelsen. Sampel yang dinyatakan positif mengandung ookista pada pemeriksaan natif, dilakukan pemeriksaan lanjut dengan pewarnaan Ziehl Neelsen untuk mengkonfirmasi ulang keberadaan ookista.  Pemeriksaan lanjut tersebut dilakukan untuk menghindari adanya positif palsu. Casemor et al. (1985) menyatakan teknik pewarnaan Ziehl Neelsen dapat digunakan untuk mengkonfirmasi ulang keberadaan ookista. Teknik pengapungan menggunakan gula sheater, dan teknik pewarnaan Ziehl Neelsen dianjurkan untuk pemeriksaan Cryptosporidium sp. (Garcia 2001).
    Tabel 3   Persentase sapi terinfeksi Cryptosporidium sp. berdasarkan jenis kelamin dan umur
    Faktor

    n
    Positif

    Persentase (%)
    Rataan jumlah sapi terinfeksi Cryptosporidium sp.
    Umur
     Anak
    32
    5

    16
    0.16±0.37

    Dewasa
    49
    9

    18
    0.18±0.39
    Jenis kelamin
    Betina
    63
    11

    17.46
    0.17±0.38

    Jantan
    18
    3

    16.66
    0.17±0.38

    Keterangan : uji-t; *berbeda nyata (p<0 .05="" span="">, n; jumlah sampel
    Prevalensi kriptosporidiosis pada anak sapi 16%, dan prevalensi pada sapi dewasa 18% (Tabel 3), tetapi secara statistika  tidak ditemukan adanya perbedaan yang nyata (P>0.05). Hasil ini berbeda dengan Faubert dan Litvinsky (2000) yang menyatakan bahwa parasit Cryptosporidium sp. lebih dominan menyerang pedet dan anakan dibanding dewasa, karena sistem kekebalan pada ternak muda belum terbentuk sempurna. Tidak adanya perbedaan yang nyata  tersebut diduga karena peternak yang menerapkan sistem pemeliharaan intensif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sistem pemeliharaan semi-intensif dan ekstensif. Selain hal tersebut, faktor yang dapat menyebabkan tinggi atau rendahnya prevalensi adalah derajat infeksi agen penyakit. Prevalensi kriptosporidiosis secara nyata ditemukan pada hewan kurang dari satu bulan (Sischo et al. 2000; Huentink et al. 2001; Sturdee et al. 2003; Santyn et al. 2004).  Infeksi Cryptosporidium sp. pada hewan yang lebih dewasa dapat menyebabkan infeksi dengan perkembangan yang lambat, hal ini karena sapi dewasa dianggap sebagai reservoir dan dapat terinfeksi secara asimptomatis (Misic et al. 2002).
    Prevalensi kriptosporidiosis pada sapi betina 17.46% dan pada sapi jantan 16.66% (Tabel 3). Secara statistika kejadian kriptosporidios pada sapi betina dan jantan tidak berbeda nyata (P>0.05).  Prevalensi kriptosporidiosis pada hewan jantan maupun hewan betina memiliki kerentanan yang sama (Hamnes et al. 2007). Hasil penelitian ini (Tabel 3) sejalan dengan hasil penelitian Nasir et al. (2009) yang menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata pada prevalensi infeksi Cryptosporidium sp. yang diamati pada sapi jantan dan sapi betina.  Hal ini diduga karena dipengaruhi oleh sistem pertahanan tubuh yang dimiliki oleh sapi berdasarkan jenis kelamin memiliki persamaan. Saat agen patogen masuk ke dalam tubuh maka sistem pertahanan tubuh akan meresponnya. Sistem pertahanan tersebut terdiri atas pertahanan tubuh bagian luar atau fisik, sistem kekebalan bawaan, dan sistem kekebalan dapatan. Heine et al. (1984) melakukan serangkaian uji coba tentang pentingnya sel T untuk pemulihan akibat infeksi Cryptosporidium sp. yang diuji cobakan pada mencit yang memiliki kelainan pada sel T. Mead et al. (1992) melakukan serangkaian uji coba dengan cara mengangkat dan mentransfer sel dari organ timus, limpa dan sumsum tulang belakang yang berasal dari tikus liar ke mencit yang mempunyai kelainan sel T tersebut, secara ekperimental membuktikan keberadaan sel T, mampu mengeradikasi infeksi yang ditimbulkan oleh Cryptosporidium sp. Tingginya prevalensi penyakit pada salah satu jenis kelamin dapat disebabkan oleh faktor intrinsik, dan faktor ekstrinsik (Ayinmode dan Benjamin 2010). Selain faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik keparahan kriptosporidiosis dipengaruhi juga oleh derajat infeksi, sistem kekebalan, adanya infeksi sekunder, nutrisi, dan peternakan (Olson et al. 2004).
    Rataan Jumlah Ookista Cryptosporidium sp. Berdasarkan Umur Ternak dengan Pewarnaan Ziehl Neelsen
    Rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. pada anak (>6 bulan–12 bulan) dengan dewasa (>12 bulan) berdasarkan uji statistika yang disajikan pada Tabel 4, tidak menunjukan perberbedaan yang nyata (P>0.05). Rataan jumlah ookista Cyptosporidium sp. yang tidak berbeda nyata mengindikasikan umur sapi tidak mempengaruhi prevalensi kriptosporidiosis pada sapi. Ayinmode dan Benjamin (2010) menyatakan, tidak ada perbedaan yang nyata (P>0.05) antara tingkat infeksi di anak sapi dengan sapi dewasa. Duranti et al. (2008) menyatakan umur yang mempengaruhi kejadian kriptosporidiosis secara nyata ditemukan pada sapi yang berumur dua minggu setelah dilahirkan.
    Tabel 4 Rataan jumlah ookista Cryptosoporidium sp. berdasarkan umur
    Umur
    n
    Rataan jumlah ookista Cyptosoporidium sp. per 10 lapang pandang per ekor sapi
     Anak
    5
    12.2±9.4 a
    Dewasa
    9
      7.8±4.7 a

    Keterangan : n; jumlah sampel, uji t:  huruf kecil superskrip yang sama  menyatakan hasil tidak berbeda nyata (p>0.05)
    Anak sapi dengan induknya ditempatkan dalam satu kandang, diduga menjadi faktor tidak adanya perbedaan yang nyata pada rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. berdasarkan tingkat umur. Castro et al. (2002) menyatakan pemisahan kandang mengakibatkan anak sapi rentan terhadap infeksi Cryptosporidium sp. karena rendahnya kekebalan dan mudah terinfeksi ookista melalui pemberian pakan. Pemisahan kandang anak sapi dengan induknya menjadi faktor nyata dalam infeksi Cryptosporidium sp. sedangkan anak sapi yang dirawat induknya akan terlindungi (Duranti et  al. 2008).
    Faktor kondisi kandang dan sistem kekebalan tubuh yang dimiliki ternak dapat mempengaruhi infeksi rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. Artama et al. (2005) menyatakan jumlah ookista pada setiap hewan bervariasi. Hal ini diduga karena faktor lingkungan dan imunitas ternak. Tinggi rendahnya rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. yang ditemukan pada ternak dapat mempengaruhi prevalensi kriptosporidiosis pada suatu peternakan.  Garcia (2001) menyatakan jumlah ookista di 20 bidang yang dipilih secara acak pada pembesaran 1000 kali dikategorikan menjadi empat yaitu tidak ditemukan ookista dinyatakan negatif, 1–5 ookista dinyatakan positif namun kategori sedikit, 6–10 kategori sedang, dan lebih dari 10 tergolong relatif tinggi.  Rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. per 10 lapang pandang per ekor sapi di Kabupaten Cianjur dapat  digolongkan ke dalam kategori relatif tinggi.
    Rataan Jumlah Ookista Cryptosporidium sp. Berdasarkan Jenis Kelamin Ternak dengan Pewarnaan  Ziehl Neelsen
    Tabel 5 Rataan jumlah ookista Cryptosoporidium sp. berdarkan jenis kelamin
    Jenis kelamin
    n
    Rata-rata jumlah ookista Cryptosporidium sp. per 10 lapang pandang per ekor sapi
    Betina
    11
    5.7±4.5a
    Jantan
    3
    10.3±7.1a

    Keterangan : n; jumlah sampel, uji-t; huruf kecil superskrip yang sama menyatakan hasil tidak berbeda nyata (p>0.05)
    Rataan jumlah ookista Cryptosoporidium sp. pada jenis kelamin berdasarkan uji statistika yang ditampilkan pada Tabel 5, tidak ditemukan adanya perbedaan yang nyata (p>0.05). Rataan jumlah ookista Cryptosoporidium sp. yang tidak berbeda nyata mengindikasikan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap prevalensi kriptosporidiosis pada sapi.  Nasir et al. (2009) menyatakan, tidak ada perbedaan yang nyata pada rataan infeksi Cryptosporidium sp. yang diamati pada sapi jantan dan sapi betina. Rataan jumlah infestasi parasit pada suatu ternak dapat diperangaruhi oleh adanya faktor stres pada ternak yang dapat menurunkan sistem imunitas. Bandini (2001) menyatakan bahwa banyaknya jumlah parasit yang ditemukan pada salah satu jenis kelamin diduga karena faktor stres pada sapi.
    SIMPULAN
    Tingkat prevalensi kriptosporidiosis pada sapi di peternakan rakyat Kabupaten Cianjur menunjukan angka 17.28%. Rataan jumlah ookista Cryptosporidium sp. tidak menunjukan adanya perbedaan yang nyata  baik di tingkat umur ataupun jenis kelamin sapi. Berdasarkan uji regresi logistik ternak yang ditempatkan dalam kandang dengan alas tanah memiliki resiko terinfeksi Cryptosporidium sp. 2.88 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan ternak yang ditempatkan dalam kandang dengan alas semen. Manajemen pemeliharaan dan sanitasi kandang seperti, sistem pemeliharaan, paparan sinar matahari ke dalam kandang, frekuensi pembersihan kandang, dan sumber air yang digunakan untuk ternak sudah tergolong baik walaupun secara uji regresi logistik tidak menunjukan adanya asosiasi.
    SARAN
    Berdasarkan hasil penelitian penulis menyarankan perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai prevalensi kriptosporidiosis pada sapi di peternakan rakyat Kabupaten Cianjur. Terutama faktor-faktor yang berkaitan antara kejadian kriptosporidiosis pada umur dan jenis kelamin.
    DAFTAR PUSTAKA
    Artama K, Cahyaningsih U, Sudarnika E. 2005. Prevalensi Infeksi Cryptosporidium sp. pada Sapi Bali di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi di Kabupaten Karangasem Bali [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
    Ayinmode BA, Benjamin OF. 2010. Prevalence of Cryptosporidium infection in Cattle from South Western Nigeria. Vet Archive. 80(6):723–731.
    Bandini Y. 2001.  Sapi Bali. Jakarta (ID): Penebar Swadaya
    Castro HJA, Gonjales LYA, Marzzs EA. 2002. Prevalence and risk factor invold in the spread of neonatal bovine cryptosporidiosis in Galacia. Vet Parasitol. 106:1-10.
    Casemore DP, Armstrong M, Sands RL. 1985. Laboratory diagnosis of Cryptosporidiosis. J Clin Pathol. 38:1337–1341.
    Duranti A, Caccio SM, Pozio E, Edigio AD, Curtis MD, Battisi A, Scaramozzino P. 2008. Risk faktor associated with Cryptosporidium  sp. infection in Cattle. Z Pub Health. 56(2009):176–182.
    Faubert GM, Litvinsky Y. 2000. Natural transmission of Cryptosporidium sp. between dams and calves on a dairy farm. J Parasitol. 86(3):495–500.
    Garcia LS. 2001. Diagnostic Medical Parasitology 4th ed. Washington DC (US): ASM Press. Di dalam : Ayinmode BA, Benjamin OF. 2010. Prevalence of Cryptosporidium Infection in Cattle from South Western Nigeria. Vet Archive. 80 (6):723–731.
    Hamnes IS, Gjerde BJ, Robertson LJ. 2007. A longitudinal study on the occurrence of Cryptosporidium and Giardia in dogs during their first year of life. Acta Vet Scandinavica. 49:22.
    Heine J, Moon HW, Woodmansee DB. 1984. Persistent Cryptosporidium infection in congenitally athymic (nude) mice. Infect and Immun. 43:856–859.
    Huentink REC, Van der G, Noordhuizen JP, Ploeger HW. 2001. Epidimiology of Cryptosporidium sp. and Giardia duodenalis on a dairy farm. Vet Parasitol. 102:53–67.
    Kirk JH. 2011. Pathogens in manure [Internet]. [diunduh 29 Agustus 2013]. Tersedia pada http://www.vetmed.ucdavis.edu/vetext/INF-DA/Pathog manure.pdf.University of California.
    Lisle JT, Rose JB. 1995. Cryptosporidium contaminatin of water in USA and UK. J Water Supply Res. 44:103–105.
    Marcelo S, Borges AS. 2002. Some Aspects of Protozoan Infection in Immunocompromised Patiens-A Review. Mem Inst Oswaldo Cruz. 97(4):443–457.
    Misic ZS, Radovojevic R, Kusilic Z. 2002. Cryptosporidium infection in wearers bull calves and posparturient cows in the Belgrade area. Acta Vet. 52(1):34–41.
    Mead JR, Arrowood MJ, Healey MC, Sidwell RW. 1991. Cryptosporidial infections in SCID mice reconstituted with human or murine lymphocytes. J of Protozool. 38:59S–61S.
    Muhid A, Roberston I, Josephine NG, Ryan U. 2011. Prevalence of and management factors contributing to Cryptosporidium sp. Infection in pre-weaned and post-weaned calves in Johor, Malaysia. Exp Parasitol. 127:534–538.
    Nasir A, Avais M, Khan MS, Ahmad N. 2009. Prevalence of Cryptosporidium sp. infection in Lahore  (Pakistan) and its association with diarrhea dairy calves. Int J Agric Biol. 11:221–224.
    [OIE] Office International des Epizooties Collaborating Center Iowa State University College of Veterinary Medicine. 2004. Cryptosporidiosis. United State (US): Iowa State University.
    Olson ME, O’handley RM, Ralston BJ, Mc.Allister TA, Thompson RC. 2004. Update on Cryptosporidium and Giardia infections in cattle. Trends Parasitol. 20:185–191.
    Santyn M, James M, Trout, Xiao L, Zhou L, Greiner E, Fayer R. 2004. Prevalence and age related variation of Cryptosporidium sp. and genotypes in dairy calves. Vet  Parasitol. 122:103–117.
    Sischo WM, Atwill ER, Lanyon LE, George J. 2000. Cryptospodian on dairy farms and the role these farms may have in contaminating surface water supplies in the northeastern United State. Prev Vet Med. 43:253–267.
    Sturdee AP, Bodley, Tickell AT, Archer A, Chalmes RM. 2003. Long-term study of Cryptosporidium prevalence on lowland farm in the United Kingdom. Vet Parasitol. 116:97–113.