Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

JALUR PENDAKIAN GUNUNG TAMBORA

  • Friday, January 1, 2016
  • Irwan Manshur


  • Gunung Tambora merupakan gunung tertinggi di pulau sumbawa, gunung ini memiliki ketinggian 2850 mdpl. Gunung ini terkenal sampai ke manca negara karena letusan sekitar 201 tahun yang lalu mengakibatkan bencana yang luar biasa bahkan akibat dari letusannya dirasakan benua lain. Ketinggian yang dimilikinya sekarang konon hanya setengah dari ketinggian sebelum Tambora meletus. Letusan gunung tambora terdaftar ke dalam 10 letusan terbesar gunung berapai yang pernah tercatat oleh manusia di dunia. Untuk menapakan kaki di atap pulau sumbawa bisanya dapat ditempuh melalu dua jalur pendakian resmi yang berada di Kabupaten Dompu, kedua jalur tersebut adalah jalur doropeti dan jalur pancasila. Jika kita mendaki melalui jalur pancasila konon sesampainya di puncak atau di titik tertinggi tambora, adalah jalur yang bisa dilewati untuk turun ke dasar kaldera nya. Gunung ini memiliki Diameter sekitar 7 km dengan kedalaman kaldera sekitar 1-1,2 km. 5 april 1815 adalah peristiwa gunung tambora memuntahkan isi perutnya, dan pada tanggal 5 april 2015 diperingati sebagai  dua abad letusan tambora pada tanggal tersebut kementrian pariwisata menyelenggarakan rangkaian acara melalui event “Tambora Menyapa Dunia” tak kurang dari 15.000 wisatawan lokal dan mancanegara turut memeriahkan acara tersebut, dan salah satu acara dari rangkaian tersebut adalah pendakian menuju puncak Tambora, untuk mengantisipasi membeludaknya para pendaki, maka dibukalah 3 jalur baru di kabupaten bima yang pada awalnya hanya ada 2 jalur resmi yang terletak di Kabupaten Dompu. 2 bulan yang lalu saya bersama teman saya berkesempatan menyapa gunung yang pada dua abad lalu telah menimbulkan bencana. Jalur yang kami gunakan adalah jalur baru bekas acara peringatan Tambora Menyapa Dunia. Kami berdua di pandu penduduk lokal setempat sebagai tour guide kebetulan mereka berdua ikut terlibat dalam pembukan jalur yang akan kami gunakan, sangat terlihat sekali mereka menguasi dan hapal lintasan yang akan kami lewati, sampai kami berdua menjuluki mereka berdua sebagai mbah kuncen. Jalur yang kami gunakan adalah savana terbuka, sama sekali tidak melewati hutan. Dari mulai titik pendakian di desa terakhir [desa terakhir dari jalur yang kami lintasi adalah desa tambora, dari desa tambora juga memiliki jalur pendakian yang baru di buka saat acara tambora menyapa dunia, tapi untuk warga sekitar mungkin sudah tidak asing lagi]. Sampai pos terakhir atau campground. Jalur yang kami gunakan ini sangat cocok untuk offroad menggunakan motor trail/mobil 4WD, lintasannya sangat licin yang di dominasi oleh pasir yang dalam, dan yang perlu dicatat adalah teriknya matahari disini sangat panas dan merontokan stamina, walaupun menggunakan motor namun stamina sangat terkuras, jika hendak mendaki lewat jalur ini dengan jalan kaki sangat disarankan saat musim hujan, selain pemandanganya akan semakin indah karena hijaunya savana juga tidak takut kekurangna air, karena disat musim panas sumber air di jalur ini sangat minim, hanya berupa tampungan air hujan yang warnanya sudah sangat keruh, penunjuk arah sama sekali belum terpasang, jadi sangat dianjurkan jika anda bukan warga setempah alangkah baiknya ditemani warga sekitar untuk menjadi tourguide.














    PUNCAK MANDEH

  • Wednesday, October 14, 2015
  • Irwan Manshur
  • Negeri sejuta pesona begitulah bunyi dari slogan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Kabupaten yang terletak di Provinsi Sumatera Barat memang memilki objek wisata yang belum terjamah banyak orang bisa dikatakan objek wisatanya masih perawan. Dari sekian banyak objek wisata yang berada di Pessel adalah Puncak Mandeh. Objek wisata ini disebut-sebut sebagai “Raja Ampat nya” Sumatera Barat. Puncak Mandeh sangat layak jika di juluki sebagai “Raja Ampat” nya Sumatera Barat, pesona  yang dimilikinya sangat mempesona, warna air lautnya yang jernih dan tenang. Dari Puncak Mandeh kita bisa melihat pulau-pulau kecil dengan kontur berbukit-bukit dan hijau menambah sejuk pemandangan yang tersajikan, gradasi warna sangat kontras antara biru nya laut dan langit, hijaunya pepohonan yang menghuni pulau kecil, serta putihnya awan yang seakan-akan memayungi pulau-pulau kecil tersebut semakin memanjakan mata. Dari kota Padang pertama kita menuju kabupaten Pessel yang dapat ditempuh sekitar 2 jam menggunakan kendaraan umum. Dari Pessel perjalnan bisa dilanjutkan menggunakan ojek, akses jalan menuju puncak Mandeh pun sudah dibangun, karena akses jalan baru dibangun bertepatan dengan diresmikn dan dibukanya  Puncak Mandeh sebagai salah satu objek wisata di Pesisir Selatan. Di kawasan Puncak Mandeh juga tersedia wisata air seperti Snorkling dan Diving.






    JALUR PENDAKIAN GUNUNG LATIMOJONG 3478 MDPL (ATAP SULAWESI)

  • Tuesday, September 1, 2015
  • Irwan Manshur
  • Label:


  • Gunung Latimojong merupakan gunung tertinggi di Tanah Sulawesi dan termasuk ke dalam jajaran 7 puncak tertinggi di Indonesia. Gunung ini terletak di Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan yang berjarak sekitar 245 km dari pusat Kota Makassar. Untuk mencapai desa Baraka kita bisa menggunakan kendaraan umum jenis Avanza dengan ongkos 100-120ribu. Sesampainya di desa Baraka Pendaki biasanya singgah di pondok nya pak Dadang yang dijadikan basecampnya KPA Lembayung. Konon katanya gunung ini merupakan salah satu gunung tersulit di Indonesia untuk di daki. Sebelum adanya kendaraan sampai desa terakhir (desa Latimojong) untuk mencapai desa tersebut dibutuhkan waktu 2 hari 1 malam dengan berjalan kaki dari desa terakhir yang bisa diakses mobil (desa Baraka). Jalur yang dilewati menuju desa Latimojong dari desa Baraka berupa jalanan ekstrim, sebalah kiri/kanan berupa jurang yang dalamnya puluhan meter. Untuk menuju desa Latimojong kita bisa menyapa mobil jeep dengan harga sewa 1,4 juta, atau sewa mobil truk seharga 2 juta pulang pergi dan bisa diisi berapapun juga, alternatif terakhir adalah naik ojeg dengan ongkos sekitar 100-150 ribu.Perjalanan masih disambung dengan jalan kaki untuk menuju desa Karangan desa terakhir kita melapor untuk melakukan pendakian, waktu tempuh sekitar 2 jam dengan tanjakan terjal dengan hanya sedikit sekali bonus. Selama perjalan kita akan disuguhi dengan panorama alam yang sangat indah, disini banyak terdapat desa-desa yang terletak di kaki pegunungan yang kemiringanya cukup tajam. Dari desa karangan sampai pos terakhir menuju puncak kita akan melewati 7 pos dengan karakter medan yang berbeda-beda dan ciri khas masing-masing.
    1.    Desa Karangan – POS I
    Jalur yang kita lewati adalah perkebunan kopi warga, ini adalah trek terpanjang yang harus dilewati dibandingkan 6 trek berikutnya, waktu tempuh sekitar 2 – 2,5 jam, di trek ini kita akan melewati lintasan licin yang sangat terjal saya menyebutnya tanjakan kopi karena yang kita lewati adalah benar-benar kebun kopi. Sepanjang lintasan ini adalah lahar tebuka belum memasuki hutan.

    2.    POS I – POS II
    Menuju pos II kita akan mulai memasuki hutan yang lebat, lintasan yang kita lewati adalah tanjakan dan turunan. Pos II terletak di Pinggir sungai, disini bisa dipakai untuk berkemah hanya saja muat untuk sekitar 3-4 tenda saja karena lahanya sempit. Lintasan menuju pos II tidak seterjal Lintasan menuju pos I, waktu tempuh POS I menuju POS II sekitar 1,5 – 2 jam

    3.    POS II – POS III
    Ini adalah lintasan paling terjal kedua, panjang lintasan hanya sekitar 0,6 km namun tanjakan benar-benar terjal dengan kemiringan sekitar 75° - 80° (perkiraan). Untuk melewati trek ini kita harus berpegangan pada akar-akar. Waktu tempuh sekitar 1 jam

    4.    POS III – POS IV
    Panjang lintasanya sekitar 1 km treknya sudah mulai tidak terlalu terjal dan cukup banyak bonus, waktu tempuh sekitar 1 – 1,5 jam, di pos IV bisa mendirikan tenda sekitar belasan tenda. Lokasinya tertutup oleh pepohonan.

    5.    POS IV - POS V
    Panjang lintasan menuju pos V sekitar 1 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, lintasan tidak seterjal lintasan- lintasan sebelumnya dan banyak ditemukan bonus, lahannya cukup luas dan bisa muat untuk sekitar 15 - 20 tenda, namun menurut pendaki lokal di pos V terkenal dengan badainya walaupun lahanya tidak terbuka. Sekitar 150 ke arah barat terdapat sumber air, pendaki bisanya mengisi air disini untuk persedian menuju pos VII
    6.    POS V -  POS VI
    Lintasan mulai agak terjal kembali dibandingkan dengan lintasan pos V. Mulai dari trek ini tipe tanaman sudah berbeda. Mualai dari sini sebelum sampai di POS VII sudah mulai terbuka pemandangan pegunungan mulai tampak dari sini. Waktu tempuh sekitar 1 – 1,5 jam

    7.    POS VI -  POS VII
    Tipe lintasan menuju pos VII hampir sama dengan lintasan sebelumnya namun sudah lebih terbuka lagi dan tingkat keterjalan mulai meningkat kembali, dengan waktu tempuh sekitar 1-1,5 jam. Dari pos VII jika cuaca cerah kita bisa menikmati Sunset. Di Pos ini terdapat sumber air dan bisa mendirikan tenda dengn kapasitar sekitar 20 tenda. Tempat yang lebih luas untuk mendirikan tenda adalah di kawasan Telaga, dari Pos VII kita harus naik lagi sekitarc 30 menit, saat akan summit kita akan melewati kawasan Telaga.

    8.    POS VII – PUNCAK
    Untuk mencapai puncak dari pos VII dibutuhkan waktu sekitar 1 jam tanpa membawa carrier bag. Titik puncak sama sekali tidak terlihat sebelum kita sampai di Tugu yang menjadi pertanda titik tertinggi di Tanah sulawesi diketinggian 3478 mdpl. Puncak dari gunung Latimojong lebih dikenal dengan julukan  “Puncak Rantemario”

    Di puncak terdapat lahan yang cukup luas juga untuk mendirikan tenda, para pendaki juga biasa mendirikan tenda di tempat ini, pemandangan dari puncak sungguh sangat indah, pemandangan berupa pegunungan yang berderat. Rasa lelah terbayar semua saat sampai di puncak titik tertinggi 3478 mdpl dan menjadi Atapnya Sulawesi.


    #PUNCAK
    #TUGUPUNCAK

    #POSI
    #POSII
    #POSIII

    #POSIV

    #POSV

    #POSVI
    #POSVII

    #SUNSETPOSVII 

    #SUMBERAIRPOSII

    #NEGERIDIATASAWAN

    #POSVII

    TRADISI MINUM KOPI ORANG INDONESIA

  • Friday, August 28, 2015
  • Irwan Manshur
  • Sudah bukan rahasia lagi kalua Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbaikdi dunia, hal tersebut melatarbelakangi kebiasaan warganya dibeberapa tempat yang menjadikan minum kopi sebagai salah satu kebiasaan atau budaya. Konon katanya kopi yang di pajang di Etalase Starbucks Amerika adalah kopi yang berasalal dari Indonesia sebut saja kopi Toraja dan Kopi Aceh. Kota-kota seperti Aceh, Belitong dan Makassar warganya memiliki kebiasaan mengopi. Kali ini saya akan membahas budaya ngopi orang Makassar. Kota yang disebut-sebut sebagai Kota terbesar di Wilayah Timur yang dijadikan Gerbang Indonesia wilayah timur ini memiliki budaya ngopi yang sangat kental. Banyak sekali warung kopi yang terbebaran hamper di tiap sudut kota. Di jam-jam Sore terlihat warkop Nampak ramai oleh pengunjung untuk menikmati secangkir kopi. Pengunjung sangat beragam mulai dari pemuda, orang tua, orang yang pulang kerja pria dan wanita. Ada satu hal yang unik menurut saya, yang baru pertama kali saya rasakan. Kopi yang saya cicipi ini rasanya beda dari kopi-kopi yang sudah saya cicipi di Pulau Jawa. Kepenasaran pun membuat saya sedikit kepo dan bertanya-tanya kepada teman saya, kok kopi nya enak banget. Ternyata kopi tersebut didatangkan dari kabupaten Enrekang dan kopi tersebut juga ternyata yang selama ini kita kenal sebagai Kopi Toraja. Saat itu saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Enrekang dan ternyata kopi-kopi disana ditanam di kaki Gunung Latimojong yang ketinggianya >1000 mdpl. Kopi Toraja juga ternyata di pasoknya dari Kabupaten Enrekang, karena memang kabupaten ini bersebelahan, jadi Kopi nya berasal dari Enrekang namun dalam pemasaran lebih dikenal sebagai Kopi Toraja. Kenikmatan dan kekhasanya yang menurut saya unik dan baru saya temukan adalah rasa manis yang dihasilkan hanya dari susu (kopi susu), kecuali anda memesan kopi hitam original maka rasa manisnya berasalal dari gula pasir yang ditambahkan. Jika anda berkesempatan mampir ke Kota Makassar jangan lewatkan untuk menikmati sensasi ngopi di warkopnya.

    #SecangkirKopidiWarkopDottoro

    #SecangkirKopidiWarkopDottoro

    JALUR PENDAKIAN GUNUNG MARAPI-SUMATERA BARAT#SunriseMarapi

  • Tuesday, August 4, 2015
  • Irwan Manshur
  • Label:

  • Gunung Marapi merupakan salah satu gunung yang berada di Provinsi Sumatera Barat, namanya hampir mirip dengan salah satu gunung yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu gunung Merapi. Perbedan dari segi nama kedua gunung tersebut terletak pada huruf vokal pertama yang digunakan, kalau dari segi letak sudah sangat jelas berbeda jauh, namun terkadang orang-orang masih sering salah menyebutkan nama ataupun menganggap kedua gunung tersebut sama saja. Jalur pendakian gunung Marapi tidka terlalu sulit, kebanyakan penduduk lokal ataupun pendaki dari kabupaten yang masih berada dalam kawasan Provinsi Sumatera Barat, mendaki di malam hari kemudian turun kembali di pagi hari. Jalur yang dilalui berupa akar-akar pepohonan, lama pendakian dari pos sampe puncak jika hanya membawa tas kecil yang berisi keperluan logistik memakan waktu sekitar 5 jam. Pos pendakian sendiri terleatak di daerah kota baru. Gunung Marapi memiliki ketinggian sekitar 2891 Mdpl dan posisinya tepat berhadap-hadapan dengan gunung singgalang yang memiliki ketinggian 2877 Mdpl. Jalur yang dilalui mulai dari basecamp pelaporan sampai batas vegetasi realatif sama, perubahan jalur pendakian baru akan terasa dimulai daerah cadas, dimana jalur treking berupa bebatuan, bila di pulau jawa hampir mirip dengan jalur menuju puncak gunung Merapi yang berada di Provinsi Yogyakarta. Di basecamp pelaporan sendiri seluruh pendaki diwajibkan untuk mencatat nama dan mebayar uang retribusi serta uang parkir jika membawa kendaraan. Jika cuaca sedang bersahabat dari daerah sekitaran cadas maka kita dapat melihat danau singkarak. Puncak dari gunung ini diberi nama puncak merpati yang konon katanya puncak ini mirip seperti burung merpati. Keadaan di puncak sangat luas dan masih memiliki kawah yang masih aktif, kawah disebelah timur kedalamannya bisa mencapai ratusan meter. Di gunung ini juga terdapat taman eidelweis yang cukup luas, walaupun tak seluas padang edelweis alun-alun surya kencana gunung gede. Gagahnya gunung kerinci yang terletak di provinsi Jambi pun bisa terlihat saat cauca bersahabat. Di puncak Terdapat sebuah tiang bendera yang menjadi tanda titik tertinggi dari gunung Marapi (Puncak Merpati). Gunung Marapi cukup terkenal dikalangan para pendaki lokal, untuk pengelolaan administrasi ataupun Tim Rescue disana belum sebagus pengelolaan gunung-gunung terkenal yang berada di Pulau Jawa.



    #SunriseMarapi

    #KapanKitaKemana

    #PuncakMerpati

    #AreaKawah

    #ViewSinggalang

    SEBUAH KISAH KLASIK

  • Thursday, July 2, 2015
  • Irwan Manshur
  • Tak terasa sudah setahun lewat kita melewati masa pendidikan, kita terbentuk dari sekumpulan orang yang memilki latar belakang berbeda mulai dari suku, kebiasaan, hobby, kebudayaan dan bahkan genk. Kala itu jika dari masing-masing mengatakan belum saling mengenal karakter satu sama lain dan hanya baru mengenal orang satu genk atau teman bermain saja sangatlah wajar. Hingga suatu ketika kita mengalami yang namanya pengakuan secara terus terang dari hati ke hati. Saya pun mengira tragedi ini akan menjadi salah satu awal ketidak nyamanan yang akan kami lewati selama satu tahun karena kejadian ini berlangsung dari hari ketiga kita bertemu. Tak terbantahkan kejadian tersebut langsung menyebar ke negeri seberang, maklum saja karena tembok dimana kami berkumpul tersebut pun bisa bicara sehingga ketika ada orang lain selain kami yang berada dekat tembok tersebut, si tembok seolah-olah berbisik menceritakan apa yang sudah terjadi sebelum kedatangannya. Ada pepatah mengatakan “sesuatu yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita, dan sesuatu yang tidak kita inginkan belum tentu buruk untuk kita”. Sangatlah wajar ketika pertama kali kami disatukan ada perasaan minder atau perasaan minoritas, bisa dikatakan kami berisi orang-orang “WAW” pada masanya. Dan perasaan itu pun mendera kepada saya pribadi. Namun waktu dan keadaan menuntun kita ke arah pengenalan diri masing-masing. Sesuai dengan pribahasa “tak kenal maka tak sayang”. Salah satu kalimat yang terngiang dalam tragedy tersebut yang masih saya ingat adalah “kita baru tiga hari, dan kita masih akan menjalani kebersamaan selama satu tahun”. Sepertinya setiap orang yang berada di ruangan tersebut mencamkan baik-baik kata kata tersebut.
    Satu bulan pertama memang sepertinya belum tercipta feel yang menyatu, feel tersebut masih terpartisi belum seluruhnya memiliki. Di bulan-bulan selanjutnya feel tersebut mulai menjangkit ke semua anggota hingga terbentuk satu feel yang benar-benar terasa sekali kebersamaanya. Tidak dapat dipungkiri memang ketidaksepahaman selalu ditemui ditiap bulannya dan tiap bagian, namun adalah sebuah kewajaran.mengingat kami terdiri dari belasan kepala dengan isi pemikiran yang berbeda. Kedewasaanlah yang menuntun kami untuk tetap berada dalam satu garis sinergis dan saling koperatip. Masalah bukanlah untuk dihindari melainkan untuk diselesaikan, karena adanya masalah kualitas kedewasaan kita dalam berpikir dan bersosialisasi semakin teruji. Mungkin setiap orang disini memiliki kisah dan pengalaman yang unik yang hanya dialami oleh pelakunya saja. Total 6 bulan yang harus kita lewati bersama-sama walaupun beberapa moment kita dibagi dalam beberapa bagian. Tujuan yang sama mendasari kebersaman kita untuk melewati semua rintangan. Muka kusut, rambut lepek,, dompet cekak, susah, senang, turun ke lapangan bersama-sama, kena marah, diberi petuah, diberi sanjungan, dinilai negative oleh negara sebelah, kerja dalam tim, kerja secara individu kami alami semua.
    Kegiatan selama 6 bulan lebih banyak menuntut kerjasama tim, kesuksesan pun disini terletak pada tim bukan terletak disalah satu orang saja. Loyalitas yang dimiliki oleh tim ini memang patut di acungi 4 jempol, dimana kemauan untuk saling mendukung, saling menjaga, saling mensuport benar-benar terasa. Loyalitas Pikiran, tenaga, dan harta masing-masing terisi oleh setiap anggota sesuai dengan yang dimiliki dari ketiga point tersebut sehingga saling melengkapi satu sama lain. Perasaan jenuh, bosan, dan rindu ketika kita dibagi-bagi ke dalam tim kecil pun pernah saya alami. Trimester pertama masih terasa tak begitu berat, belum terasa adanya tekanan yang begitu hebat, mulai memasuki trimester kedua tekanan sudah mulai naik, dan di posisi ini tingkat manajemen kesabaran dan kepribadian pun turut meningkat. Pepatah mengatakan “ketika seseorang akan dinaikan derajatnya makan dia harus melewati sebuah ujian”. Sebuah kalimat keluar dari salah seorang dosen yang berbunyi “pendidikan ini konon katanya bisa lebih mendekatkan dan bisa menjauhkan”. Perkataan dosen tersebut benar-benar tidak meleset. Mungkin memang benar pada suatu kondisi keaadan ini memunculkan perasaan kecewa, muak, marah dan bahkan benci. Namun perasaan itu tidak serta merta membuat kami terkotak-kotakan justru perasaan tersebut malah muncul menjadi sebuah canda tawa yang berubah menjadi suatu kerinduan ketika kami benar-benar dipisahkan jauh di trimester ke 3.
    Pada trimester ke 3 kita di pecahkan dalam kelompok kecil dan terpisah oleh jarak yang jauh, rasa rindu untuk berkumpul pun tak terelakan lagi, walaupun mungkin dahulu si A punya rasa kesal terhadap si B, namun ketika benar-benar dipisahkan oleh jarak si A, B, C D, E dan  seterusnya pun saling merindukan baik tingkahnya yang “unik” ataupun rindu berkumpul, saling menertawakan, saling ejek-ejakan, ataupun merindukan saat harus melewati bagian yang menguras tenaga, pikiran, da nisi dompet sampe menyebabkan muka lepek. Saya bersukur bisa berada diantara orang-orang yang bisa menerima saya apa adanya, walaupun mungkin penduduk dari negara sebelah terkadang memberikan penilaian yang tidak diharapkan tetapi saya selalu berpikir “ BODOOOOO AMAT” rutinintas yang saya lewati selama pendidikan lebih banyak dilakukan dengan tim ini bukan dengan penduduk negara sebelah. Ucapan kasar, perbuatan kasar pernah saya lakukan selama saya menjadi bagian tim ini, tapi mereka masih mau menerima keberadaan saya dan memperlakukan saya dengan sangat baik. Satu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan selama menjalani pendidikan ini adalah ketajaman mulut dan kecepatanya untuk melukai perasaan orang tidak bisa diragukan lagi. Inilah salah satu dosa terbesar saya kepada mereka.
    Kini kita sampai pada tahap awal menuju tahap akhir dari pendidikan ini, dimana kegiatan lebih banyak menuntut kemampuan individu masing-masing. Semoga perjuangan bersama-sama selama 12 bulan yang sudah kita lewati akan tetap terjaga sampai hari tua. Setelah perjuangan ini berakhir kita akan menjalani hidup kita masing-masing unutk menjemput impian kita masing-masing. Disaat itulah mungkin intesitas komunikasi kita akan mulai menurun, memudar, dan bahkan mungkin menghilang (lost contac). Semoga setelah kita meraih semua tujuan dan impian kita masing, kita bisa menjalani kebersamaan seperti yang telah kita lewati selama 12 bulan lalu.  Saya masih teringat akan perkataan seorang dosen “ketika kita sudah tua, punya anak, anak-anak sudah dewasa, impian kita sudah tercapai, hidup sudah sukses, maka yang dicari kembali adalah teman, terutama teman semasa kita berjuang bersama-sama melewati pahit manisnya semasa menuntut ilmu”. Tulisan ini berisi harapan dan rasa syukur saya terhadap pencipta karena saya diberi kesempatan untuk dapat menjalani kehidupan dan berjuang bersama-sama kalian, mengenal kalian adalah suatu kehormatan hidup untuk saya.

    Salah satu keinginan yang belum tercapai adalah merasakan jalan bersama berisi satu tim penuh “I Squad”, dimana saya membayangkan kita melakukan seuatu perjalanan menggunakan kereta api dihiasi kesederhanan, menyaksikan indahnya negeri ini, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri luasnya samudara beratapkan langit yang biru dan berhiaskan gumpalan awan putih yang elok. Menikmati secangkir teh hangat di teras cottage ditemani petikan senar gitar yang diiringi lagu  “sebuah kisah klasik (SO7)”, rembulan dan bintang menjadi penerangan kita di kala malam menghampiri. Deburan ombak dan belaian angina malam menina bobokan kita sampai mentari menyapa kita lewat sentuhan kalauan cahanya yang jatuh di wajah kita. Sebuah keinginan yang mungkin terlihat lebay dan freak, namun ini hanyalah sebuah keinginan dan impian. Keinginan dan impian adalah sebuah prilaku yang dimiliki oleh orang yang memiliki tujuan hidup yang tidak hanya mengikuti arus air saja.