Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Unit Romantisme dan Realitasnya (URR)

  • Monday, October 13, 2014
  • mansyurahmad.blogspot.com
  • Label:

  • #TheDreamTeam

    Chapter #1
    Beberapa hari yang lalu saya baru melewati masa pendidikan di bagian reproduksi, selama satu bulan penuh saya beserta rekan-rekan saya melewati masa-masa yang indah. Kita beranggotakan 19 orang, dan pada minggu pertama kita kedatangan teman yang kebetulan pada saat itu ada pendidikan tambahan selama satu minggu. Tempat yang sunyi nan roamtis ini memang agak sedikit jauh dari lingkungan perkampusan yang memang penuh dengan hiruk pikuk kegiatan kemahasiswaan pada umumnya, tempat ini memang berada di area pusat perkadangan ternak. Salah satu kegiatan dan rutinitas yang kita lakukan tiap hari adalah belajar pemeriksaan kebuntingan (PKB), belajar kawin suntik inseminasi buatan (IB), menampung sperma sapid an domba, belajar ultrasonografi (USG) pada sapi dan domba, dan sempat beberapa kali demo USG pada kuda. Itulah serangkaian kewajiban yang kita jalani selama sebulan penuh disuatu tempat bernama Unit Rehabilitasi dan Reproduksi (URR), saya pribadi sih lebih senang memplesetkan singkatan ini menjadi “Unit Romantisme dan Realitasnya” (URR). Bagaimana tidak “Romantis” disini kita selain “belajar keilmuan tetapi juga belajar keorganisasian” (kata-kata yang saya dengar pertama kali dari dokter ligaya saat bicara 6 mata dengan beliau, dan sampai sekarang kata-kata tersebut saya jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan), nah yang akan saya garis bawahi sebagai penanda kata “Romantis” disini adalah “keorganisasian” nya. Kata “romantic” tidak harus melulu diaplikasikan pada sepasang muda mudi yang sedang dimabuk asmara, tetapi kata “romantic” dapat diaplikasikan juga dalam indahnya kebersamaan dalam sebuah pertemanan. Baiklah saya jelaskan kenapa saya bersikukuh memakai kata “romantic” untuk menjabarkan keorganisasian yang saya maksudkan. Dalam melakukan pemeriksaan kebuntingan (PKB) dan melakukan Inseminasi buatan bukalah perkara mudah, pertama-tama kita harus bersahabat dengan anus/rectum sapi, kedua kita harus bersahabat dengan baunya kotoran/feses yang keluar, ketiga kita harus siap dikala apes kena sepakan kakinya. Belum menginjak pada sesi pembelajaran intinya pun sudah sedemikian agak beratnya. Setelah kita faham ketiga langkah tersebut kita harus bisa menemukan yang namanya servix disanalah titik orientasi kita sebelum melakukan tindakan ke tahap selanjutnya karena bagian servixlah yang ciri khasnya paling berbeda dan relative lebih mudah dikenali karena cirinya yang keras, walaupun “realitasnya” juga susah. kemampuan kita dalam melakukan interpretasi pun berbeda, disinilah awal kata “Unit Romantisme dan Realitasnya” muncul. Ada beberapa kawan yang sedikit kesulitan dalam menentukan titik orientasi saat melakukan PKB dan IB, da nada juga kawan saya yang meneteskan air mata kebahagianya karena dia agak telat bisanya, kebetulan pada minggu pertama hari ke 4 saya berada di kandang saya sudah bisa melakukan IB dengan cukup baik. Dan hari-hari berikutnya sudah hampir semua bisa melakukannya, yang saya kagumi disini adalah kemampuan kawan-kawan saya dalam “mengorganisir” waktu, kemampuan, dan berbagi (saling mengajarkan) dengan rekan-rekan yang memang kebetulan belum terlalu mahir. Bisa dibayangkan ketika anda kesulitan menginterpretasiakn titik oreintasi, tangan anda susah pegal namun tak kunjung menemukanya, dan secara gak sadar air mata pun turun menghapus wajah anda yang kelelahan, tiba-tiba kawan anda dari belakang dengan hati yang ihklas bersedia mengajarkanya, tangan anda dibimbing untuk menemukan suatu titik orientasi yang bernama servix, walaupun tangan berlumuran feses dan terkadang darah karena bagian mukosa dari rectum sedikit mengalami perlukaan. Tangan anda dibimbing oleh tanganya sampai anda menemukanya dan anda bisa melakukanya sendiri. Mungkin agak sedikit rancu, lebay, dan gak nyambung kata “organisme, romantisme, dan realitisanya” dimix dijadikan satu cerita. Itulah yang saya pelajari selama berada dikandang sapi, terkadang Sesutu yang tidak nyambung, lebay, aneh, menjijikan bisa dijadikan sesatu yang bisa memiliki makna yang lebih bernilai ketika kita menyesisipkan “keilmuan dan sentuhan organisir”. Walaupun tangan yang membimbing adalah tangan lelaki dan tangan yang dibimbing juga adalah tangan lelaki saya rasa tidak mengurangi nilai “keromanisanya”, saya memandang salah satu makana dari “romantisme” itu sendiri adalah “keharmonisan”. Jika orang tersebut mau membantu temanya yang lelaki secara seksama ya apalagi membantu temanya yang wanita, itu bukanlah sautu kendala yang berarti. Suasana indah itu berlanjut sampai pada hari terahir dimana kita di uji oleh dosen untuk ujian akhir. Kisah romantisme dikandang tersebut pun dibalut oleh cerita indahnya kebersamaan, disaat kita berada di kandang sapi, disana ada juga yang namanya masa istirahat untuk sapinya dimana dalam masa istirahat si sapi tersebut tidak boelh diganggu atau dipalpasi dan pada sapi istirahat maka sapi tersebut harus diberi makan rumput. Selama jelang waktu tersebut atau masa istirahat untuk melakukan palpasi kita sering sekali memesan makan dan minum ke ibu-ibu yang memang suaminya bertugas di kandang sapi tersebut, jika dilihat sepintas betapa joroknya kelakuan kita ini, makan minum dikandang sapi tepat sekali dibelakang anus/rectum sapi,dan tak jarang disaat kita makan atau minum si sapi malah kencing ataupun membung kotoranya, namun kita tak pernah menghiraukanya dan terus melanjutkan makan minum. Terkadang memang hidup ini kurang “Logis” namun apalah daya ketika kita mampu menyusukuri dan menikmati masa ketidaklogisan tersebut ternyata bisa berubah menjadi sebuah kisah yang sangat unik, dan sangat kita rindukan dikala kita meninggalkan keibiasaan itu. Ada satu kata-kata “ICON” dikala kita berada di kandang sapi bersama-sama, kebetulan dalam kelompok kita ada seorang ibu-ibu yang memang baru mengikuti program pendidikan profesi, umurnya memang terpaut sekitar 10-11 tahun dengan kita, dia memiliki sifat keibuan yang baik. Dikala kita melakukan palpasi tak jarang rectum sapi berdarah dikarena salah dalam orientasi ataupun dalam teknik. Dia selalu bilang ke kita semua “ulaaaah atuh heei ulaaah” (itu adalah Bahasa sunda yang dalam Bahasa Indonesia artinya “jangan”) kasian sapinya. Karena intonasi dan penyampaianya yang sedikit unik maka kata-kata “Ulaaah Atuuh” sudah menjadi semacam “Icon” penting dan selalu hadir dalam setiap candaan kita. Suatu tindakan yang kurang terpuji namun saya selalu merindukannya adalah ketika waktu luang kita isi dengan bermain kartu foker, kebetulan saya memang senang bermain kartu foker dan saya juga cukup mahir memainkannya. Bagi saya foker sudah seperti jejak hidup foker selalu mengingatkan saya pada kenangan manis pahit saat harus sabar menunggu dosen pembimbing saat mengerjakan tugas akhir S1, jadi wajarlah jika saya memang sedikit memiliki kemampuan dalam bermain foker hahah (narsis). Dua permainan yang sering kita mainkan dikala mengisi waktu istirahat pertama bermain PES (hanya bagi yang bisa aja, say amah ga bisa,saya mah apalah atuh Cuma anak kampung) dan kedua foker, untuk permainan foker ada beberapa wanita juga yang bisa memainkanya. Sembari bermain foker enakanya minum es teh manis sambal makan,menu andalah disini adalah indomie telor plus nasi buatan chep andah, chep paling jago seantero URR hahah, walaupun terkadang bosan dijejali telor, mie, telor mie tapi tetap aja pagi-pagi pesen mie, siangnya pesen nasi plus telor, besoknya? Ya gitu lagi pesennya, haha memang ironis sih, namun kemampuan mensyukuri apa yang ada menjadikan suatu keironisan menjadi suatu nikmat yang luar biasa, bukan menjadi suatu kesedihan haha.

    0 komentar:

    Post a Comment